May 12, 2008 by kucingkeren
Susur sungai memang eksotis. Apalagi di pedalaman hutan menggunakan perahu kayu yang lengkap dan nyaman. Raha’i Pangun, perahu kayu berukuran 20 x 6 meter itu salah satunya. Memang bukan cuma perahu biasa tapi layaknya sebuah cruise meski bukan di laut lepas tapi di sepanjang Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah.
Interiornya lumayan asyik, saya dan rombongan bisa sarapan pagi sampai dinner hasil olahan koki keluaran sekolah perhotelan. Asyiknya sambil makan itu, kita bisa menyaksikan juga para orang utan makan sambil bergelayutan di cabang-cabang pohon atau di panggung kayu yang dibuat khusus oleh petugas lingkungan yang secara rutin membawa buah-buahan untuk si orang utan ini. Alasan adanya petugas itu sih, karena persediaan makanan di area hutan di Pulau Bapalas itu memang kurang memadai lagi buat populasi mereka.
Menyusuri sungai yang satu ini memang seolah menembus benteng antara kota yang bising suara mesin dan sebuah lingkungan yang hiruk dengan suara-suara alam. Meski air tak jernih karena tanah gambut, tapi lingkungan di sekitar sungai itu menarik hati. Selain komunitas orangutan tadi, ada juga jenis kera berbuntut panjang, bekantan, owa, beruang madu (cuma gak sempat muncul ke pinggir sungai ni hewan). Tapi yang beruntung salah seorang teman, sempat melihat macan dahan turun ke pinggir sungai untuk minum. Sayang sejenis kucing ini segera lari saat Rahai’i pangun lewat. Di sungai ini juga sesekali muncul mulut ikan gabus. Hemmm
Continue Reading »
Posted in jurnal | No Comments »
April 7, 2008 by kucingkeren
Pertama kali mendengar Bitung, asumsi saya langsung klik dengan kata panas dan ruwet. Yaahh kota pelabuhan, di mana-mana bukankah seperti itu? Belum lagi bau ikannya. Hmmm…amissssssss.
Tapi ketika kaki sudah beranjak ke sana, imej itu langsung berubah. Kotanya bersih, meski masih panas, tapi penghijauan sudah ada di mana-mana. Dan yang asyik, tentu saja urusan ‘jalan-jalan’nya’. Di sini apalagi bukan wisata laut. Maklum lah, Kota Bitung, itu disebut juga sebagai gerbang Sulawesi Utara, karena lokasinya di pinggir laut, tepat, juga karena memiliki pelabuhan yang bakal berfungsi sebagai pelabuhan internasional.
Satu lokasi ‘jalan-jalan’ yang kemudian menjadi favorit saya adalah Pulau Lembeh. Lokasinya membentang di selatan kota Bitung. Dipisah oleh Selat Lembeh, Pulau Lembeh menjadi salah satu objek wisata unggulan di Kota Bitung. Di sana ada 8 resort yang bisa dipilihj. Setiap resort memiliki keunikannya tersendiri. Ada yang memiliki ‘akuarium laut’. Yaitu, jika air pasang, dengan hanya menebar remahan roti, aneka ragam ikan segera ‘menyerbu’. Pengalaman unik yang tak terlupakan, saat ikan-ikan itu dengan manja menyentuh ujung jari saya yang nyemplung ke laut. Geli tapi asyik…
Ada juga Lembeh Resort. Di atas tanah 9 hektare, dengan topografi landai dan berbukit berdiri 12 cottage dengan desain arsitektur tradisional dan modern berfasilitas bintang lima. Teristimewa adalah panorama ‘halaman’ resortnya yang memiliki keindahan bawah laut menakjubkan. Tak heran kalau para tamunya didominasi penyuka keindahan bawah laut. Hampir berbagai jenis ikan dari seluruh dunia ada di sini. “Bahkan ikan purba, coelacanth pun pernah ditemukan di perairan Sulawesi Utara ini.
Continue Reading »
Posted in jurnal | 6 Comments »