June 11, 2009 by kucingkeren
Aroma alamnya tak hanya membius, roh budaya Jawa seolah melekat bersama harumnya kopi itu.
Ambillah sejumput irisan gula aren dan satu biji kopi yang telah disangrai. Kunyahlan keduanya bersamaan. Rasa kopi yang sedikit pahit dan harum serta manisnya gula aren membuat lidah tak henti menari. Sensansi kuliner itu membawa kita ke nuansa acara minum kopi pada keluarga Jawa di perkebunan jaman dulu. Petualangan kecil itu saya nikmati di Losari Coffee Plantation Resort & Spa di kawasan Magelang, Jawa Tengah.
Tapi tak hanya itu, masih banyak kejutan manis lain di area 22 hektar ini.
Memasuki gerbangnya, saya disambut lobi yang unik. Yaitu Mayong, stasiun kereta api tua yang dibangun pada 1863 Meski telah direnovasi di sana-sini, bangunan ini masih tetap unik dan orisinil. Lampu gantungnya yang merupakan cawan besar dari kaca, bahkan pintu pembelian tiketnya masih terlihat utuh meski tua.
Dibangun pada ketinggian 900 meter di atas permukaan laut, atmosfer Losari sungguh menyejukkan. Di sekelilingnya ada delapan gunung menjulang memamerkan pesonanya. Yaitu Gunung Sindoro, Sumbing, Perahu, Unggaran, Merapi, Merbabu, Andong, dan Gunung Telemoyo. Sekitar 80persen areanya terdiri dari perkebunan kopi robusta yang telah berumur puluhan tahun.
Selebihnya adalah hunian antik Continue Reading »
Posted in jurnal | 9 Comments »
April 15, 2009 by kucingkeren
Pernah membayangkan menyentuh batu-batuan yang ada di dasar laut dan terbentuk ratusan tahun lalu? Tidak? Tapi ketika bebatuan itu ada di hadapan sendiri, dan kita bisa leluasa menyentuhnya? Rasanya luar biasa! Apalagi, jenis batu yang siap disentuh ini tak seperti batu yang dilihat sehari-hari di jalanan. Tapi, adalah batuan tua dan, konon, merupakan alas Pulau Jawa yang berumur lebih dari 120 juta tahun.. Wow!
Karangsambung, tempat yang saya kunjungi kali ini merupakan laboratorium alam dan monumen geologi yang letaknya di daerah Pegunungan Serayu Selatan, Jawa Tengah.
Kawasan yang telah mengalami pengerosian ini, luasnya sekitar 300 Kilometer persegi. Jalan menuju lokasi, yaitu sekitar 19 Km utara Kebumen, beraspal, datar walaupun sedikit berkelak-kelok mengikuti Sungai Luk Ulo yang berada di sebelah Baratnya. Kalau dari terminal kebumen bisa menggunakan angkutan umum dua kali pindah, ongkosnya sekitar Rp. 5000-7000 an,- per orang.
Asyiknya sih memang bawa kendaraan sendiri. Tapi hati-hati, biasanya dari arah berlawanan sering ada truk jumbor yang mengangkut batang-batang bambu besar yang baru dipanen. Mungkin karena sudah terbiasa, pak supir truk itu bisa dengan tenang ngebut membawa angkutannya. Sementara, kita sebagai pendatang, jadi was was menghadapi ‘rally’ bermuatan ‘berat’ itu.
Nah, kalau para supir truk itu sudah lewat, kita bisa menikmati panorama alam di sekitarnya. Sebelah barat tadi ada sungai Luk Ulo. Airnya jernih, rasanya ingin nyebur saja ikut berenang dengan para penduduk yang tampaknya juga asyik menikmati beningnya air sungai itu. Sayang, di beberapa tempat di sungai itu, terlihat ada aktivitas `panen` pasirnya. Sedih juga, kalau dibiarkan tentunya bisa mengganggu keseimbangan alam di sekitarnya.
Ketika pertamakali mendengar Karangsambung, Continue Reading »
Posted in jurnal | Tagged alam, batu, karangsambung, Pulau Jawa, sungai | 26 Comments »