Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2007

Cirebon

Dalam sebuah tulisan, seorang teman, TJ , agak kecewa karena tugasnya hanya ke Cirebon. Walahhh… Cirebon padahal sebuah kota yang menarik sekali di’ubek-ubek’. Dari budaya, makanan, sampai batiknya.

Tahun lalu saya pernah ke Cirebon. Awalnya sih karena rasa kepenasaran saya pada empal gentong (makanan…apalagi?) hehe… Kakak saya kalau cerita itu wehh bikin lidah saya terjulur-julur mirip my lovely cat, Ammar jr. Ya, apalagi empal gentong dengkul sapi. Halah…mebayangkannya saja sudah gemana gitu, apalagi kalau mangkuknya ada di depan saya. Nah, berbekal dengan semangat itulah, saya dan beberapa teman meluncur dari Jakarta lewat jalur utara, menuju Cirebon. Pergi Sabtu pagi, dengan 2 kali berhenti ‘ngaso’ sambil makan ayam goreng kampung di daerah Cikampek, dan makan Udang goreng di kawasan dekat Cirebon (apa itu namanya yak..) akhirnya kami sampai di kotanya pukul 3-an sore.

Sesampai di sana, ternyata Kota Cirebon sedang ramai, (more…)

Advertisements

Read Full Post »

Tana Toraja yang Membius

Ini kisah perjalanan yang sudah lama. Sekitar dua tahun lalu. Usai menyaksikan prosesi pelepasan para peneliti laut di Makassar, rasanya tak komplit kalau tak meneruskan perjalanan ke Tanah Toraja. Secara, masih satu pulau , kan? Sebetulnya , saya memang selalu terpesona dengan rumah adatnya yang disebut Tongkonan. Atapnya yang menjulang tinggi di kedua sisinya ke arah langit –seperti perahu–, juga aristektur panggungnya yang dibuat dari kayu pilihan selalu terlihat anggun di mata saya.

Akhirnya berempat, kami mencarter mobil mengarungi perjalanan yang tak pendek itu dari Makassar. Hampir semalaman habis di jalan. Tapi saya sangat menikmatinya, apalagi di sepanjang jalan ada makanan khas yang bisa dibeli. Misalnya koyabu, tepung ketan dan kelapa parut dengan inti gula merah, dikukus dalam bungkus daun pandan berbentuk limas.

Atau sop konro di warung-warung di kampung yang dilewati. Setiap desa menuju Tana Toraja ini memiliki keunikan masing-masing. Saya juga sempat mampir (more…)

Read Full Post »

Penyu Purba di Papua

MEncapainya saya harus berjalan berjam-jam. Tak hanya ber-speedboat selama enam jam menyusuri pinggiran laut pasifik, tapi sesampainya di dermaga terakhir yang bisa dilabuhi, saya harus berjalan enam jam (lagi). Perjalanan berjalan kaki ini menyisakan banyak cerita. Saat itu matahari pas di puncak kepala saya. episode pertama perjalanan adalah menempuh pantai yang berpasir basah. Kebayang dong, bagaimana berjalan di atas pasir basah itu, sulit melangkah, karena sebagian sepatu terbenam di pasir basah itu.

tarsiusEpisode kedua, ini terpaksa ada episode-episode, karena seharusnya kami hanya berjalan menyusuri pantai saja menuju pos konservasinya. Tapi karena sungai di depan kami sedang pasang dan para buayanya sedang hangout di pinggiran sungainya, terpaksa kami harus mengambil jalan memutar memasuki hutan. Nah, episode ke dua ini kami memasuki hutan belantara se belantara-belantara nya. Pohonnya berbatang besarrrrr segede Oha (itu kata keponakan saya). Belum lagi ilalang yang masih berdiri sempurna, karena memang jalan pintas ini (ternyata) belum pernah dilewati rombongan lain. “Ini gara-gara Pak Lagu yang polisi hutan jadi kita bisa lancar menembus hutan itu,” ujar pak Marten salah satu pendamping kami dari Kabupaten Sorong di akhir perjalanan (kelak).

Di tengah hutan, kami menemukan sungai melintas. Saya pikir kami hanya akan menyusuri sungai itu saja tanpa melintasinya. Ternyata? “AYo nyeberang,” ujar Pak Lagu. What?? Saya balik saja deh pak? Tapi usul saya tadi terpaksa ditelan kembali, saat melihat hutan yang mulai menggelap di belakang sya itu. Dengan berat hati, saya melangkah juga mencelupkan kaki ke sungai itu, di tengahnya tubuh saya terlelap sampai batas dada… Biyungg kok begini amatt yaa.. dulu sih masih kuliahan gpp seru-seruan begini, sekarang? Wehh..

Episode ke tiga, kami harus turun dari hutan menuju sungai (lagi) . Meski tebing hutan itu tak begitu tinggi, lumayan juga ngeri. Pasalnya di sungai di bawah itu saya lihat tengkorak rusa bergelimpangan. “Iya itu bekas makan malam buaya,” ujar Pak Lagu kalem sambil menyebrangi sungai itu. Walahhhhhhhhh…

EPisode ke empat, kami (more…)

Read Full Post »