Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2008

Lorong Waktu Itu (Siluet 3)

Setelah 2 jam menembus arus dari pusat kota Tenggarong, sampailah di Dusun Lekaq Kidau, Desa Selerong, Kecamatan Sebulu. Memasuki gerbangnya yang dihiasi ukiran khas dayak, tampak pemukiman adat tersusun rapi, termasuk rumah adat khas dayak, Lamin. Lamin milik ketua adat, Pebayaq Ding ini, berbentuk rumah panggung (memiliki kolong) dengan menggunakan atap bentuk pelana. Di atap itu menurut Pebayaq Ding, biasanya ada ukiran harimau. “tapi saya suruh copot, karena sekarang ini sudah tak zaman lagi perebutan pemerintahan atau ketua adat yang disimbolkan dengan kepala harimau,” kata sang ketua adat ini.

Banyak pembaruan memang. Telinga lelaki yang usianya telah lewat dari setengah abad ini pun tampak dipotong. “Saya malu bertelinga panjang sekarang ini. Karena selalu jadi tontonan saat menghadiri pertemuan di luar kota,” katanya sedikit canggung. Ah.. tak terbayangkan memotong telinga sendiri…

Sambil menemani berkeliling melihat-lihat perkampungan, Pebayaq Ding mengundang untuk datang lagi saat pesta rakyat digelar. Berbagai jenis pagelaran memang sering diadakan di tanah yang kelilingnya lebih dari tiga kilometer ini. Antara lain Pesta Mamat Bali Akang. Yaitu (more…)

Advertisements

Read Full Post »

MEmacu Adrenalin (Siluet 2)

Ingin yang lebih alami, setelah puas menikmati pesona Tenggarong? Wisata Alam Bukit Bangkirai, Kalimantan Timur, bisa menjadi alternatif. Kawasan wisata alam ini terletak di daerah hutan hujan tropis dengan dominasi pohon Bangkirai. Tak hanya hutannya, cottages yang dilengkapi dengan fasilitas hotel berbintang inipun bahan bangunannya hampir seluruhnya dari kayu jenis Shorea laevis itu.

Banyak hal yang bisa memacu adrenalin di sini. Mulai dari jalan-jalan di malam hari sambil menikmati pemandangan jamur yang mengandung fosfor sehingga menimbulkan cahaya dalam suasana gelap. Atau menjajal Canopy Bridge yang tingginya 40 meter. Canopy bridge ini merupakan yang pertama di Indonesia dan sangat khas karena platform-platformnya dibuat dan ditopang oleh satu jenis tegakan yang sama yaitu Bangkirai. Dari atas jembatan, dapat dilihat formasi tajuk tegakan ‘keluarga bangkirai’ sebagai ciri dari hutan hujan tropis yang cukup indah dan membentuk stratum atas yang saling sambung menyambung,

Sesekali kabut menyelimuti jembatan tersebut, juga angin kencang mengayun-ayunkannya. Kalau nyali tak cukup kuat, pasti teriakan ketakutan menggema di seluruh hutan yang luas konservasinya sebesar 1500 Ha, dan yang telah dijadikan kawasan wisata seluas 510 Ha ini. Tapi, sebetulnya, walaupun sesekali seekor ular phyton (more…)

Read Full Post »

Pesona Bali

Lenggak lenggok penari Bali, umbul-umbul daun kelapa yang dirangkai dengan bebungaan, laut, dan rileks mungkin jadi salah satu icon Bali. Tempat wisata yang boleh jadi menjadi impian semua penduduk di bumi ini.

Lepas dari segala kenangan buruk (personal banget yak) dan harga-harganya yang selangit, Bali memang masih tetap memesona. Ubudnya yang dingin, Kutanya yang ‘hot’, Sanurnya yang romantis, Legiannya yang asyik, Tanah Lotnya yang anggun, Pantai Lovinanya yang seru oleh lumba-lumba, Desa Seminyaknya yang eksotis. Apalagi? Wine-nya, juga Legendanya yang masih menghipnotis sebagian orang.

Ke Bali kali ini, saya melepaskan semua pesona itu. Saya lebih memilih kawasan taman nasional Bali Baratnya. Meski masih tak lepas dari segala kemewahan ala Bali, alamnya membuatnya otak dan pikiran rest 90 persen (keukeuh masih belum 100 persen).

Selain kamar tidurnya yang disetting dengan gaya bintang lima, semua perangkat interiornya benar-benar alami (more…)

Read Full Post »

Parodi Lombok

Menumpang perahu kayu dari Pelabuhan Bangsal menuju Gili Air, sendirian, membuat grogi juga. Takut ombak besar, iya, tapi ada rasa sungkan yang lain juga. KEramahan si tukang perahu itu. Sesaat setelah duduk, misalnya, sudah kirim pertanyaan. Dari Jakarta, mbak? Gak lama kemudian, kok sendirian? Suaminya di mana?Terus pertanyaan lain menyusul, Tugas ya, mbak? Ujung-ujungnya ketika mendaratkan saya, (mungkin melihat wajah saya bete) pak perahu mengucapkan satu kalimat lagi : “Maaf ya, mbak, saya aneh aja melihat mbak sendirian. Biasanya bule soalnya yang suka jalan-jalan sendirian.” Halah…. memangnya kalau perempuan lokal jalan sendirian, piye? Keramahan timur yang seringkali membuat risi.

Untunglah Gili Air, tetap, membuat saya happy. Anak lokalnya pun ramah dan benar-benar tulus. Artinya, tak melontarkan pertanyaan-pertanyaan aneh-aneh. Dalam semalam, misalnya saya diajak berkeliling pulau. Meski jalan kaki, perjalanan mengasyikkan, apalagi saat itu sedang purnama. Melewati makam, penangkaran penyu, dan mendengarkan segala kisah tentang desanya. Sekali lagi, saya tak menyesal memilih Gili Air, bukan Gili Terawangan atau Gili Meno yang konon lebih luas dan asyik karena banyak tempat dugemnya.

Di Gili Air ini saya suka karang lautnya yang meski ada yang sudah rusak, tetap saja asyik dinikmati. Apalagi ikan karangnya yang menggemaskan. Pagi hari, menikmati matahari (meski dibalik gazebo) sambil sarapan nasi goreng udang. Hemm…

Keasyikkan lain di Lombok ini adalah mutiara, (more…)

Read Full Post »

Yogya

Obrolan tadi pagi dengan teman perjalanan yang suka bikin sajak di blog nya, mengingatkan saya pada kota cantik di Jawa Tengah ini, Yogyakarta. Jika kangen gudeg dan wedang ronde, saya bisa saja tiba-tiba naik kereta api ke kota pelajar itu. Sesampai di stasiun Tugu, jalan kaki ke malioboro sarapan gudeg ceker. Siap-siap di kantung 10 ribu perak, ini untuk jaga-jaga kalau si mbok juga jual pisang goreng panas yang pulen.

Setelah istirahat di hotel atau di rumah teman, biasanya saya tidur pulas sampai pukul 3 sore. Setelah mandi, langsung cabut ke arah Kota Gede. Menyusuri rumah-rumah pengrajin perak. Ngobrol ngalor ngidul kalau ada yang menarik belanja juga hasil kerajinan tangannya.

Menjelang sore, naik lagi ke arah jalan utamanya. Di sana ada restoran yang posisinya sedikit naik namanya Omah Dhuwur. Arsitekturnya cukup istimewa, merupakan perpaduan antara modern dan kekunoan dengan bangunan yang sudah berusia 150 tahun. Hidangannya juga unik, (more…)

Read Full Post »