<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>jejak jejak</title>
	<atom:link href="http://ambularo.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ambularo.wordpress.com</link>
	<description>jejak jejak tiap detik</description>
	<lastBuildDate>Thu, 06 Oct 2011 05:01:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ambularo.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>jejak jejak</title>
		<link>http://ambularo.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ambularo.wordpress.com/osd.xml" title="jejak jejak" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ambularo.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kejutan di Lingkung Gunung</title>
		<link>http://ambularo.wordpress.com/2009/06/11/kejutan-di-lingkung-gunung/</link>
		<comments>http://ambularo.wordpress.com/2009/06/11/kejutan-di-lingkung-gunung/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 07:07:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kucingkeren</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ambularo.wordpress.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Aroma alamnya tak hanya membius, roh budaya Jawa seolah melekat bersama harumnya kopi itu. Ambillah sejumput irisan gula aren dan satu biji kopi yang telah disangrai. Kunyahlan keduanya bersamaan. Rasa kopi yang sedikit pahit dan harum serta manisnya gula aren membuat lidah tak henti menari. Sensansi kuliner itu membawa kita ke nuansa acara minum kopi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ambularo.wordpress.com&amp;blog=2121188&amp;post=73&amp;subd=ambularo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#000000;"><span style="font-family:arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Aroma alamnya tak hanya membius, roh budaya Jawa seolah melekat bersama harumnya kopi itu.</em></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="en-US"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Ambillah sejumput irisan gula aren dan satu biji kopi yang telah disangrai. Kunyahlan keduanya bersamaan.  Rasa kopi yang sedikit pahit dan harum serta manisnya gula aren membuat lidah tak henti menari. Sensansi kuliner itu membawa kita ke nuansa acara minum kopi pada keluarga Jawa di perkebunan jaman dulu. Petualangan kecil itu saya nikmati di Losari Coffee Plantation Resort &amp; Spa di kawasan Magelang, Jawa Tengah. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="en-US"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Tapi tak hanya itu, masih banyak kejutan manis lain di area 22 hektar ini. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="en-US"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Memasuki gerbangnya, saya disambut lobi yang unik. Yaitu Mayong, stasiun kereta api tua yang dibangun pada 1863 Meski telah direnovasi di sana-sini, bangunan ini masih tetap unik dan orisinil. Lampu gantungnya yang merupakan cawan besar dari kaca,  bahkan pintu pembelian tiketnya masih terlihat utuh meski tua. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="en-US"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Dibangun pada ketinggian 900 meter di atas permukaan laut, atmosfer Losari sungguh menyejukkan. Di sekelilingnya ada delapan gunung menjulang memamerkan pesonanya. Yaitu Gunung Sindoro, Sumbing, Perahu, Unggaran, Merapi, Merbabu, Andong, dan Gunung Telemoyo. Sekitar 80persen areanya terdiri dari perkebunan kopi robusta yang telah berumur puluhan tahun. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="en-US"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:arial,sans-serif;"><span style="color:#000000;">Selebihnya adalah hunian antik<span id="more-73"></span> dari tanah Jawa. Di tengah areanya, misalnya, berdiri kokoh gedung tua yang dibangun 1928. Bangunan yang kini disebut Club House ini digunakan sebagai fasilitas para tamu untuk <em>check in</em> dengan nyaman. Furniture dan elemen interiornya tak berubah sejak pertama dibangun. Sore hari di beranda sebelah baratnya, kita bisa duduk di kursi antik sambil menyesap teh jahe, menanti sunset di balik gunung Sindoro dan Sumbing. </span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="en-US"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Bangunan lain adalah 26 vila antik. Setiap vila memiliki keunikan serta sejarah tersendiri. Joglo Kudus, misalnya bangunan ini langsung dibawa dari daerah Kudus Jawa Tengah dan dibangun kembali di Losari persis seperti aslinya.<br />
</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="en-US"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:arial,sans-serif;"><span style="color:#000000;">Instrumen interiornya pun dibuat selaras dengan keantikan bangunan itu. Simaklah atap dari tempat tetrirahnya, Ukiran kayu khas Kudus, misalnya yang didominasi tekstur tumbuhan. Konsep alami pun tak lepas dari arsitektur setiap bangunan. Kamar mandi, contohnya, atapnya dibiarkan terbuka, bahkan bahan untuk <em>bath tub</em> dan wastafel terbuat dari alam seperti batu gunung atau perunggu. </span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="en-US"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Ketika santai di beranda vila, ada suguhan pemandangan alam menakjubkan. Ada bentangan sawah yang luas, atau perkebunan kopi, atau pemandangan ke delapan gunung itu, tergantung di vila mana menginap.  Di Vila Andong? Ada pemandangan gunung Andong, begitu juga di Vila Merapi, maka Gunung Merapi lah yang akan jelas terlihat dari beranda. Mengasyikkan&#8230;<br />
</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="en-US"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Losari pun menawarkan gaya hidup kembali ke alam. Tak heran jika di antara perkebunan kopi itu, ditanam juga berbagai tumbuhan organik. Jika sudah panen, kita bebas memetiknya, kemudian mebawanya ke dapur  Losari Restaurant untuk diolah berdasarkan permintaan. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="en-US"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Losari masih memiliki kejutan lain. YaituSpa khas ala Turki, The Hamam. Dibangun di atas tanah 600 meter persegi oleh arsitek dari Italia, Andrea dan Fabrisio Magnaghi. Di sini  ada mandi ala turki, lengkap dengan sarana relaksasi, serta ruang panasnya. Bahkan ada juga fasilitas salon dan massages tradisional dengan bubuk kopi. Atau melakukan yoga dibawah bimbingan profesional? Tinggal melangkahkan kaki ke Private Hatha&amp;Astanga Yoga.  Atau sekedar ingin berenang, Anda bisa melakukannya sambil menikmati pemandangan &#8216;para&#8217; gunung tadi. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="en-US"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Tertarik dengan proses pembuatan kopi? Ikuti tour mengelilingi kebun kopi. Di sana kita bisa belajar membedakan mana kopi robusta, arabika atau regista. Usai berkeliling, mampirlah  ke Waroeng Kopi nya untuk menyaksikan bagaimana kopi dibersihkan, dibakar dan digiling. Capek? Tak perlu, karena di sana ada juga suguhan kunyit asam atau beras kencur, minuman tradisional jawa yang dibuat langsung di tempat tersebut. Tubuh rasanya segar lagi usai segelas beras kencur itu saya teguk.  Setelahnya, lalu saya santai di sebuah kursi kayu sambil ngemil butiran kopi dan irisan gula aren tadi. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="en-US"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Aroma alam Losari tak hanya membius, roh budaya Jawa seolah melekat bersama harumnya kopi itu.  Kejutan manis, di antara delapan gunung itu. </span></span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ambularo.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ambularo.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ambularo.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ambularo.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ambularo.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ambularo.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ambularo.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ambularo.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ambularo.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ambularo.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ambularo.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ambularo.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ambularo.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ambularo.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ambularo.wordpress.com&amp;blog=2121188&amp;post=73&amp;subd=ambularo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ambularo.wordpress.com/2009/06/11/kejutan-di-lingkung-gunung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cfb8a0feb1bc35a4e381576ee9285694?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kucingkeren</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyentuh Batu di Karangsambung</title>
		<link>http://ambularo.wordpress.com/2009/04/15/menyentuh-batu-di-karangsambung/</link>
		<comments>http://ambularo.wordpress.com/2009/04/15/menyentuh-batu-di-karangsambung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 08:44:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kucingkeren</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[batu]]></category>
		<category><![CDATA[karangsambung]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[sungai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ambularo.wordpress.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[Pernah membayangkan menyentuh batu-batuan yang ada di dasar laut dan terbentuk ratusan tahun lalu? Tidak? Tapi ketika bebatuan itu ada di hadapan sendiri, dan kita bisa leluasa menyentuhnya? Rasanya luar biasa! Apalagi, jenis batu yang siap disentuh ini tak seperti batu yang dilihat sehari-hari di jalanan. Tapi, adalah batuan tua dan, konon, merupakan alas Pulau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ambularo.wordpress.com&amp;blog=2121188&amp;post=66&amp;subd=ambularo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah membayangkan menyentuh batu-batuan yang ada di dasar laut dan terbentuk ratusan tahun lalu? Tidak? Tapi ketika bebatuan itu ada di hadapan sendiri, dan kita bisa leluasa menyentuhnya? Rasanya luar biasa! Apalagi, jenis batu yang siap disentuh ini tak seperti batu yang dilihat sehari-hari di jalanan. Tapi, adalah batuan tua dan, konon, merupakan alas Pulau Jawa yang berumur lebih dari 120 juta tahun.. Wow!</p>
<p><img class="size-full wp-image-70 alignleft" style="border:3px solid black;margin-top:3px;margin-bottom:3px;" title="karsam1" src="http://ambularo.files.wordpress.com/2009/04/karsam1.jpg?w=500" alt="karsam1"   />Karangsambung, tempat yang saya kunjungi kali ini merupakan laboratorium alam dan monumen geologi yang letaknya di daerah Pegunungan Serayu Selatan, Jawa Tengah.</p>
<p>Kawasan yang telah mengalami pengerosian ini, luasnya sekitar 300 Kilometer persegi. Jalan menuju lokasi, yaitu sekitar 19 Km utara Kebumen, beraspal, datar walaupun sedikit berkelak-kelok mengikuti Sungai Luk Ulo yang berada di sebelah Baratnya. Kalau dari terminal kebumen bisa menggunakan angkutan umum dua kali pindah, ongkosnya sekitar Rp. 5000-7000 an,- per orang.</p>
<p>Asyiknya sih memang bawa kendaraan sendiri. Tapi hati-hati, biasanya dari arah berlawanan sering ada truk jumbor yang mengangkut batang-batang bambu besar yang baru dipanen. Mungkin karena sudah terbiasa, pak supir truk itu bisa dengan tenang ngebut membawa angkutannya. Sementara, kita sebagai pendatang, jadi was was menghadapi ‘rally’ bermuatan ‘berat’ itu.</p>
<p>Nah, kalau para supir truk itu sudah lewat, kita bisa menikmati panorama alam di sekitarnya. Sebelah barat tadi ada sungai Luk Ulo. Airnya jernih, rasanya ingin nyebur saja ikut berenang dengan para penduduk yang tampaknya juga asyik menikmati beningnya air sungai itu. Sayang, di beberapa tempat di sungai itu, terlihat ada aktivitas `panen` pasirnya. Sedih juga, kalau dibiarkan tentunya bisa mengganggu keseimbangan alam di sekitarnya.</p>
<p>Ketika pertamakali mendengar Karangsambung, <span id="more-66"></span>yang terbayang dalam benak saya adalah sebuah tempat yang penuh dengan karang yang sambung menyambung di dekat laut.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-71" style="border:3px solid black;margin:3px;" title="karsam4" src="http://ambularo.files.wordpress.com/2009/04/karsam4.jpg?w=500" alt="karsam4"   />Dugaan saya ternyata meleset jauh, karena lokasinya ternyata jauh dari laut. Tetapi, pemandangan di kawasan ini memang luar biasa. Rasanya seolah menonton sebuah teater di alam terbuka. Kawasan Karangsambung ini dikelilingi gunung-gunung yang menjulang sampai ketinggian 523 meter di atas permukaan laut. Di antara rangkaian gunungnya, sering dijumpai lembah-lembah sempit memanjang. Di pagi hari, kita bisa melihat gunung-gunung berbentuk runcing (prismatic irreguler), laksana bongkah-bongkah raksasa yang terpotong-potong oleh lembah yang sempit. Mungkin karena itukah kawasan ini disebut karangsambung, entahlah.</p>
<p>Di gerbang masuknya kita disambut dengan batu prasasti besar yang bertuliskan selamat datang. Di kiri kanan terdapat gedung perkantoran serta tempat penelitian. Ada sebuah gedung besar, berisi contoh-contoh bebatuan yang dihasilkan di Karangsambung itu, lengkap dengan sejarah dan proses terbentuknya.</p>
<p>Kawasan ini pun dilengkapi dengan fasilitas pendukung lain yang sudah memadai, seperti gedung pertemuan, wisma/tempat penginapan ber AC, perpustakaan, workshop kerajinan batumulia, serta areal parkir yang cukup luas.</p>
<p>Tempat yang saya kunjungi ini, memang disebut juga Cagar Ilmu Pengetahuan Geologi Nasional. Jadi tak cuma kegiatan geowisata, tapi juga ada pengembangan dan penelitian bebatuan, melakukan konservasi wilayah yang mengandung bebatuan dan fenomena geologi bernilai ilmiah untuk kepentingan pendidikan. Jadi tak heran kalau di sana, kita juga bisa bertemu para peneliti dari berbagai perguruan tinggi yang sedang melakukan penelitian, selain dengan para turis lokal dan mancanegara.</p>
<p>Untuk yang tak biasa berwisata ke tempat yang dikelola UPT (Unit Pelaksana Teknis) Balai Informasi dan Konservasi Kebumian – LIPI seperti ini, tak perlu bingung. Karena di sini juga, Anda bisa ikut ceramah ilmiah populer serta diskusi yang digelar sebelum kunjungan ke lapangan dan melihat koleksi batuan serta proses pembuatan batumulia.</p>
<p>Jangan segan-segan bertanya, para ahli akan memberi keterangan sejelas-jelasnya. Ini juga dialami saya ketika bingung melihat batu-batu yang begitu banyak jenisnya. Apalagi namanya macam-macam. Ada Basalt, Gabro, Rijang, Konglomerat, Serpentinit, Sekis Mika, Gneis, dan macam-macam lagi.</p>
<p>Walaupun rasanya penjelasan itu tak bakalan selesai, saking panjangnya, tapi pada prakteknya, saya betul-betul larut dalam kisah-kisah sang bebatuan itu. Penjelasannya komplit, mulai tentang berbagai macam batuan tua dan proses pembentukannya, hingga menyusuri sungai yang memberikan gambaran tentang proses dinamika bumi itu. Yang unik, si batu0batu itu juga bisa menjadi perhiasan . salah satu contohnya menjadi liontin i kalung yang di foto itu lho.. (keren ya,..)</p>
<p>Proses tektonik yang terjadi di kawasan ini, membuat Karangsambung menjadi wilayah paling komplit koleksi bebatuannya di Indonesia. Bahkan, menurut salah seorang peneliti, jika menurut luas wilayahnya, kelengkapan koleksi batuan di Karangsambung ini juga terbesar di Asia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ambularo.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ambularo.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ambularo.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ambularo.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ambularo.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ambularo.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ambularo.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ambularo.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ambularo.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ambularo.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ambularo.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ambularo.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ambularo.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ambularo.wordpress.com/66/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ambularo.wordpress.com&amp;blog=2121188&amp;post=66&amp;subd=ambularo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ambularo.wordpress.com/2009/04/15/menyentuh-batu-di-karangsambung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cfb8a0feb1bc35a4e381576ee9285694?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kucingkeren</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ambularo.files.wordpress.com/2009/04/karsam1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">karsam1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ambularo.files.wordpress.com/2009/04/karsam4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">karsam4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pantai yang Harus Dicari</title>
		<link>http://ambularo.wordpress.com/2008/10/16/pantai-yang-harus-dicari/</link>
		<comments>http://ambularo.wordpress.com/2008/10/16/pantai-yang-harus-dicari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Oct 2008 12:23:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kucingkeren</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ambularo.wordpress.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Ini hanya sebuah catatan kecil saat menjejakkan kaki di tanah Halbar Pantai lain di Halmahera Barat yang sayang jika tak ditengok adalah Pantai Disa (yang artinya &#8216;cari&#8217; dalam bahasa lokal). Pantai ini juga sering disebut Pantai Susupu karena tak jauh dari pantainya berdiri Gunung Susupu yang anggun. Menuju ke kawasan ini bisa menggunakan berbagai cara. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ambularo.wordpress.com&amp;blog=2121188&amp;post=60&amp;subd=ambularo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Ini hanya sebuah catatan kecil saat menjejakkan kaki di tanah Halbar</p></blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" lang="en-US"><a href="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/10/halbar4.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-61" style="border:3px solid black;" title="halbar4" src="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/10/halbar4.jpg?w=500" alt=""   /></a><span style="color:#000000;"><span style="font-family:arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Pantai lain di Halmahera Barat yang sayang jika tak ditengok adalah Pantai Disa (yang artinya &#8216;cari&#8217; dalam bahasa lokal).  Pantai ini juga sering disebut Pantai Susupu karena tak jauh dari pantainya berdiri Gunung Susupu yang anggun. Menuju ke kawasan ini bisa menggunakan berbagai cara. Dari Kota Jailolo, hanya dengan 15 ribu perak Anda bisa sampai dengan menggunakan ojek. Atau Rp 25 ribu dengan taksi atau kendaraan yang disewakan. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="en-US"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Yang menarik selama perjalanan menuju pantainya juga tak boleh dilewatkan. Desa-desa yang terawat apik. Di beberapa lokasi, Anda juga bisa melihat rumah adat dengan atap ijuk daun sagunya. Misalnya rumah adat di desa Idam Gamlamo Kecamatan Sahu Timur. Hampir secara keseluruhan bangunanya masih warisan nenek moyang mereka. Rangkanya masih kayu gufasa yang semakin lama seolah seperti besi, kuat menopang bangunan yang digunakan berbagai kegiatan adat dan juga acara sosial, termasuk posyandu. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="en-US"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Kalau nasib baik, Anda juga bisa menikmati durian, rambutan atau duku di kawasan tersebut. Dan tentu saja Cakalang Fufu alias ikan cakalang asap. Hmm&#8230; </span></span></span></p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" lang="en-US">
</blockquote>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ambularo.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ambularo.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ambularo.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ambularo.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ambularo.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ambularo.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ambularo.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ambularo.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ambularo.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ambularo.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ambularo.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ambularo.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ambularo.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ambularo.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ambularo.wordpress.com&amp;blog=2121188&amp;post=60&amp;subd=ambularo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ambularo.wordpress.com/2008/10/16/pantai-yang-harus-dicari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cfb8a0feb1bc35a4e381576ee9285694?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kucingkeren</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/10/halbar4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">halbar4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Taman Surga di Tomohon</title>
		<link>http://ambularo.wordpress.com/2008/09/16/taman-surga-di-tomohon/</link>
		<comments>http://ambularo.wordpress.com/2008/09/16/taman-surga-di-tomohon/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2008 08:23:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kucingkeren</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ambularo.wordpress.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Potongan pisang goreng hangat itu sungguh nikmat di lidah. Kombinasi rasa gurih dan manisnya seolah melenakan indera perasa. Belum lagi teh hangat yang disajikan dalam cangkir porselen tua. Di depan mata terhampar aneka bunga cantik warna warni di sebuah taman yang tertata rapi. Nun jauh di seberangnya tampak Gunung Lokon yang masih dikenal aktif ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ambularo.wordpress.com&amp;blog=2121188&amp;post=49&amp;subd=ambularo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span lang="it-IT"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Potongan pisang goreng hangat itu sungguh nikmat di lidah. Kombinasi rasa gurih dan manisnya seolah melenakan indera perasa. Belum lagi teh hangat yang disajikan dalam cangkir porselen tua. Di depan mata terhampar aneka bunga cantik warna warni di sebuah taman yang tertata rapi. Nun jauh di seberangnya tampak Gunung Lokon yang masih dikenal aktif ini menjulang gagah. Siang menjelang sore itu seolah mendinginkan kepala yang ‘panik’ menyusuri jalanan berliku menuju kawasan </span></span><span><span lang="it-IT"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">yang terletak 22 kilometer di sebelah selatan Manado dengan</span></span></span><strong><span><span lang="it-IT"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></span></strong><span lang="it-IT"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">ketinggian 700 hingga 1200 meter di atas permukaan laut ini.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><a href="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/10/dscn1474.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-54" title="dscn1474" src="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/10/dscn1474.jpg?w=500" alt=""   /></a>“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Welcome to Gardenia County Inn</em>,” ujar Leonard dan Bernadeth Ratulangi dengan wajah penuh senyum. <span lang="sv-SE">Mereka inilah pemilik tempat indah yang dibangun menjadi resort sejak 1990 ini di Tomohon. </span>Konsep alami dengan asesoris langsung dari kebunnya, membuat Gardenia Country Inn berhasil menghadirkan suasana rumah pulang yang mendamaikan. Kini ada 14 bungalow yang dibangun dari kayu tersebar di tamannya yang indah itu. Masuk ke kamarnya, kasurnya terbungkus kain putih bersih, kelengkapan kamarnya pun seolah tinggal di hotel berbintang lima. Istimewanya, di setiap kamarnya ada toples berisi kue nanas dengan kismis di atasnya buatan sang pemilik. “Karena kue ini, saya dikenal sebagai <em>pineapple cookies’s lady</em>,” ujar Bernadeth tertawa. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="en-US">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Padahal tak hanya </span><span id="more-49"></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">dengan kue itu para tamunya dimanjakan, semua hidangan yang disajikan untuk sarapan sampai makan malam dibuat dengan resep keluarga. Bahan-bahannya pun organik, diambil langsung dari kebun di halamannya. “semua tumbuhan ditanam tanpa pestisida,” kata perempuan yang masih enerjik di usianya yang sudah lewat 60 tahun ini. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="en-US">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span lang="it-IT">Dari sini juga Anda bisa menikmati objek wisata lain di Tomohon. Jika pada Sabtu, Anda beruntung bisa menyaksikan hari pasar yang menjual aneka hewan, dari tikus ekor putih, sampai ular phyton. Pasar Tomohon ini memang cukup unik dan ekstrim. </span><span lang="sv-SE">Di sinilah Anda bisa mendengar suara anjing meraung menunggu giliran dipilih konsumen. Di sudut lain bergelantungan paniki, kelelawar yang dijual Rp 25 ribu per ekor. Sabtu 9 Agustus lalu, Pak Jhoni, beruntung kios dagingnya berhasil mendatangkan empat ekor ular phyton. Pembeli sudah antri mendapatkan daging yang dijual Rp 30 ribu per kilogram ini. Jika Anda penggemar santapan ekstrim, boleh jadi pasar ini adalah surganya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Jika tidak? Tenangkan hati dengan menikmati pesona Danau Linow, sekitar 30 menit perjalanan dari pasar tadi. Jika matahari bersinar terang, Anda bisa menyaksikan kejaiban alam yang terefleksikan pada tiga warna yang muncul di danau tersebut. Hijau, biru, dan merah. Indah! Entah dari mana munculnya ketiga warna itu. Konon karena kadar belerangnya juga aneka tanaman yang tumbuh di sekitarnya. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Tak jauh dari kawasan itu ada kawasan wisata Hutan Pinus Lahendong. Deretan pohon pinus sangat romantis, tumbuh di tanah yang putih karena ada sumber belerang di sekitarnya. Selain kita bisa melihat danaunya ada juga tempat permandian yang dipercaya bisa menyembuhkan aneka penyakit kulit. Jika tahan dengan bau belerang, di sini juga Anda bisa menggelar acara seperti reunian dengan teman sekolah. Di dalamnya memang disediakan semacam saung dari bambu berkapasitas sekitar 20 orang, dilengkapi dengan tempat semacam dapur untuk memasak atau barbeque. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI">
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Menikmati kawasan yang penuh bunga ini sebetulnya cukup menegangkan. Kenapa? Karena harus berlomba dengan kabut. Ini dialami juga saat menikmati Desa Wisata Temboan. Dari puncak Bukit Temboan jelas telihat hamparan kawasan agrowisata Rurukan yang hijau dan di seberangnya tampak Gunung Kelabat dan Dua Sodara tampak melambaikan puncaknya. Tapi pemandangan memesona itu hanya sekejap, karena dalam hitungan detik sudah tertutupi kabut putih. Jika tak sigap, hilang sudah objek jepretan kamera, kecuali Anda mau menunggu dengan sabar kabut itu pergi. ”Yah, paling cepat 30 menit lah,” ujar sang penjaga gereja di puncak bukit itu.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><a href="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/10/gardenia2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-55" style="border:black 3px solid;margin:3px;" title="gardenia2" src="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/10/gardenia2.jpg?w=500" alt=""   /></a>Masih banyak yang bisa dikunjungi di kawasan Tomohon yang lokasinya berdampingan dengan daerah Minahasa ini. Ada kawasan yang disebut Amfi Theater, kawasan yang memiliki theater tempat pertunjukkan seni budaya juga tempat Waruga, yaitu makam khas nenek moyang masyarakat Minahasa yang dimakamkan secara duduk. Lokasi ini juga menyimpan harta karun para nenek moyang yang terlepas dari waruga nya saat penggalian kembali. Dari bentuk perhiasan seperti cincin bediameter hampir dua kali lingkar jari normal, konon nenek moyang masyarakat Minahasa ini berukuran besar. Ukuran ini direfleksikan pada dua sosok patung berkostum tradisional yang berdiri menjaga kawasan tersebut. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI">
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI">
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Satu tempat yang tak boleh dilewatkan adalah Danau Tondano. Gelombangnya berayun kencang digerakkan angin barat yang saat itu bertiup cukup kencang. Di kawasan ini, Anda bisa menikmati aneka masakan ikan emas, nikei yang hanya bisa didapatkan di danau ini. Kawasan ini pun menarik menjadi objek fotografi, selain dikelilingi rumah adat, juga pohon palem berjejer membentuk garis eksotis dan elegan di tepi danau. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI">
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="fi-FI"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Eksotis dan damai memang pas menggambarkan kawasan pegunungan di Manado ini. Potongan terakhir pisang goreng sepatu khas Manado itu pun akhirnya tamat nasibnya di lidah ini. Sambil duduk, memandang Gunung Lokon yang tetap gagah meski diselimuti awan, tangan tak henti mengusap kelopak bunga yang tumbuh di beranda Gardenia Country Inn . Tanpa bunga, tanpa keramahan apa jadinya kawasan ini? </span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ambularo.wordpress.com/49/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ambularo.wordpress.com/49/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ambularo.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ambularo.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ambularo.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ambularo.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ambularo.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ambularo.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ambularo.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ambularo.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ambularo.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ambularo.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ambularo.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ambularo.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ambularo.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ambularo.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ambularo.wordpress.com&amp;blog=2121188&amp;post=49&amp;subd=ambularo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ambularo.wordpress.com/2008/09/16/taman-surga-di-tomohon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cfb8a0feb1bc35a4e381576ee9285694?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kucingkeren</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/10/dscn1474.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dscn1474</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/10/gardenia2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gardenia2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berburu Sunset di Manado Tua</title>
		<link>http://ambularo.wordpress.com/2008/08/22/berburu-sunset-di-manado-tua/</link>
		<comments>http://ambularo.wordpress.com/2008/08/22/berburu-sunset-di-manado-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 09:15:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kucingkeren</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ambularo.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Meski sudah kesekian kalinya ke tempat yang satu ini, Taman Nasional Bunaken tetap saja menawan. Saat perahu menyeberangkan saya dari Pelabuhan Manado menuju Pulau Bunaken, saya teringat tulisan seorang fotografer bawah air, MIchael AW, dalam bukunya &#8220;Beneath of North SulaweSea&#8221; tentang keindahan alam Sulawesi Utara. Katanya petualangan di bawah laut di Sulawesi Utara masuk dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ambularo.wordpress.com&amp;blog=2121188&amp;post=38&amp;subd=ambularo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meski sudah kesekian kalinya ke tempat yang satu ini, Taman Nasional Bunaken tetap saja menawan. Saat perahu menyeberangkan saya dari Pelabuhan Manado menuju Pulau Bunaken, saya teringat tulisan <span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span lang="it-IT">seorang fotografer bawah air, MIchael AW, dalam bukunya &#8220;Beneath of North SulaweSea&#8221;  tentang keindahan alam Sulawesi Utara. Katanya petualangan di bawah laut di Sulawesi  Utara masuk dalam daftar pertama yang harus dikunjunginya selain Antartica, Great Barrier Reef di Australia,  Malalives, Galapagos, bahkan Fiji . </span><em>“There are still a great many places to venture on my list but North Sulawesi will always be the top of my list. It is where my hearth remains,”</em> tulisnya.</span></p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em> </em></span><img class="alignleft size-medium wp-image-132" style="border:3px solid black;float:left;margin-top:3px;margin-bottom:3px;" src="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/08/bunaken.jpg?w=250&#038;h=175" alt="" width="250" height="175" /><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>The pinnacles are covered in entirety with orange, pink, yellow, maroon, red soft corals, sponges, tunicates and sea fans. The colours are simply mind blowing absolutely a surreal experience . “It s like the gardens of  Babylon</em>.” </span></p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Begitu dia memperkirakan indahnya bawah laut SUlawesi Utara itu.  Meski belum pernah mendatangi negara yang tersohor keindahannya itu, tapi dia yakin bahwa taman di ranah Babylon tersebut seperti yang ada kini di laut Sulawesi Utara. Hemmm<br />
</span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;" lang="it-IT"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Surga laut di Sulawesi Utara ini tersebar di berbagai kawasan. Dari Pulau Bunaken, Manado Tua, Siladen, Nain, yang dikenal sebagai kawasan Taman Nasional Bunaken. Lalu ada Pulau Lembeh, Banka, Biaro, Ruang, Siau, Mahengetang, dan Sangihe. Masing-masing memiliki keunikan sendiri.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="it-IT">Di Pulai Nian, misalnya aa hamparan kebun salad, yaitu karang laut berbentuk lettuce (<em>lettuce path</em>). Melaju ke   ke Pulau Banka ada terumbu karang menyerupai seperangkat perhiasan dengan warna warni cantik.. Aiihh..<span id="more-38"></span>Terbayang jika &#8216;perhiasan&#8217; penuh ukiran dengan warna warni biru, kuning, maroon, dan oranye itu menghias di leher atau pergelangan tangan..Wuihh&#8230; Dan simaklah celah di antara cabangnya.  Ikan kecil warna warni mengintip malu-malu di sana&#8230; Enggan sekali beranjak dari sana.</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="it-IT">Jika saja ada waktu, rasanya ingin segera meluncur ke kawasan Magengetang, Sangihe. Konon ada<img class="alignleft size-medium wp-image-132" style="border:3px solid black;float:right;margin-top:3px;margin-bottom:3px;" src="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/08/manado-tua.jpg?w=250&#038;h=175" alt="" width="250" height="175" /> terumbu karang berbentuk susunan kelopak-kelopak besar menyerupai bunga mawar. Di Ruang Island sekelompok terumbu karang yang bercabang panjang menyerupai pepohonan membentuk hutan (<em>primeval forest</em>). Dengan kombinasi warna oranye, cokelat dan hijau di dasarnya membuat &#8216;hutan&#8217; itu sangat eksotis.</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="it-IT"><span lang="it-IT">Di Pulau Lembeh, pemandangannya lain lagi. </span>Di sini Anda bakal melihat banyak ikan kecil dengan bentuk dan warna aneh. Angle’s Widow misalnya,  putih berbintik merah cerah, bentuknya menyerupai kuda laut. Ada juga <em>flying solo</em>, ikan berukuran kecil dengan kombinasi warna kuning, hijau, biru di tubuhnya, bentuk kepalanya juga menyerupai ikan jadul dengan tulang hidung tinggi. Di kawasan ini juga pertamakali ditemukan ikan purba, coelacanth atau <em>latimeria menadoensis.</em> Konon hewan ini hidup pada jaman 100 tahun sebelum abad Jurassic.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p><span lang="sv-SE"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Begitu banyak spot yang bisa dilihat, belum lagi ikan lumba-lumba, hiu, pari, juga penyu. Jika sore menjelang, naiklah ke atas atap kapal. Arahkan wajah Anda menuju Pulau Manado Tua. Simaklah pelan-pelan saat matahari beranjak ke peraduan. Semburat warna merahnya begitu menakjubkan. Pendaran warna merah yang semakin pudar seolah mengawal Manado Tua menuju malam.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Pemandangannya seolah melupakan sejenak kemewahan dasar laut yang baru saja ternikmati.</span><span lang="sv-SE"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Berburu sunset di kawasan ini, seperti melengkapi perjalanan menjelajah alam Sulawesi Utara secara menyeluruh.  Tuntas..</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ambularo.wordpress.com/38/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ambularo.wordpress.com/38/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ambularo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ambularo.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ambularo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ambularo.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ambularo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ambularo.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ambularo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ambularo.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ambularo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ambularo.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ambularo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ambularo.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ambularo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ambularo.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ambularo.wordpress.com&amp;blog=2121188&amp;post=38&amp;subd=ambularo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ambularo.wordpress.com/2008/08/22/berburu-sunset-di-manado-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cfb8a0feb1bc35a4e381576ee9285694?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kucingkeren</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/08/bunaken.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/08/manado-tua.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Udang Goreng di Poto Tano</title>
		<link>http://ambularo.wordpress.com/2008/07/23/udang-goreng-di-poto-tano/</link>
		<comments>http://ambularo.wordpress.com/2008/07/23/udang-goreng-di-poto-tano/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jul 2008 11:46:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kucingkeren</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ambularo.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Ini bukan acara menikmati sebuah tempat, tapi kisah tentang nikmatnya udang goreng di sebuah pelabuhan saat menunggu giliran &#8216;boarding&#8217; ke kapal untuk menyeberangi Selat Alas dari Pulau Sumbawa ke Lombok. Kisahnya berawal, saat menunaikan perjalanan ke Pulau Sumbawa. Kota Taliwang, sebuah kota biasa saja seperti kota-kota lainnya yang baru diupgrade dari kota kecamatan menjadi kabupaten. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ambularo.wordpress.com&amp;blog=2121188&amp;post=28&amp;subd=ambularo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;">Ini bukan acara menikmati sebuah tempat, tapi kisah tentang nikmatnya udang goreng di sebuah pelabuhan saat menunggu giliran &#8216;boarding&#8217; ke kapal untuk menyeberangi Selat Alas  dari Pulau Sumbawa ke Lombok.</p>
<p style="margin-bottom:0;"><a href="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/07/plecing.jpeg"><img class="alignleft size-medium wp-image-29" style="border:5px solid black;float:right;margin:5px;" src="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/07/plecing.jpeg?w=130&#038;h=87" alt="" width="130" height="87" /></a>Kisahnya berawal, saat menunaikan perjalanan ke Pulau Sumbawa.  Kota Taliwang, sebuah kota biasa saja seperti kota-kota lainnya yang baru diupgrade dari kota kecamatan menjadi kabupaten.  Belum ada hotel berbintang atau pun cafe tempat hangout. Tapi, atmosfirnya sungguh damai. Jalan-jalannya bersih, tak ada sampah terserak. Meski saat itu belum beraspal seluruhnya, suasana cukup resik.  Menuju daerah pantainya, ombaknya itu wah tinggi sekali..pas banget kalau mau surfing. Konon, ombak di sekeliling Pulau Sumbawa ini termasuk yang terbaik di dunia untuk berselancar. Penduduk setempat menyebutnya ombak yoyo, wew asyik juga tuh. Sayang, sepertinya  masih belum ada pengusaha yang tertarik mengembangkan wisata di sana.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Yang pasti saat itu, perut saya selalu lapar.  Untung &#8216;guide&#8217; nya mengerti. Akhirnya dibawalah saya ke sebuah rumah makan yang cukup terkenal di sana(sayang namanya tak saya catat).  Di sana saya disuguhi sepat ikan. Bukan ikan sepat yang asin itu, tapi <span id="more-28"></span>itu masakan seafood kuah yang rasanya asam segar. Hmmm&#8230; langsung saja makanan ini jadi favorit. Dan tentu saja ikan bakar dengan sambal dabu-dabunya. Dan karena ada sepat ikan itu, saya tak perlu makan ikan berukuran besar sendirian seperti yang saya alami di daerah Sulawesi Utara.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Favorit saya yang lain adalah plecing kangkung. Hmm.. kangkungnya itu lho renyah. Garing ..<em>kresssss </em>gitu kalau digigit. Beda banget sama kangkung di Jawa. Nikmat! Lupa deh, bahwa kangkung ini bisa bikin asam urat darah naik.  Ah yang penting <em>enjoy</em>!</p>
<p style="margin-bottom:0;">Makanan yang rasanya <!--more--><a href="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/07/udang1.jpeg"><img class="alignright size-medium wp-image-31" style="border:5px solid black;float:left;margin-top:5px;margin-bottom:5px;" src="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/07/udang1.jpeg?w=137&#038;h=103" alt="" width="137" height="103" /></a>masih melekat di lidah sampai saat ini (wew).adalah udang goreng! Ini saya makan sambil menunggu giliran menyeberang di Pelabuhan Poto Tano menuju Pelabuhan Kayangan di Lombok.  Saat itu malam sudah mulai sampai titik pergantian hari. Tapi calon penumpang begitu banyaknya (mungkin karena saat itu pas pemberangkatan calon haji). Maklumlah jika kemudian antrian mengular sampai berkilometer. Akhirnya kami sepakat untuk ngopi dulu di warung sekitar pelabuhan. Sembarang saja sih saat itu memilih warungnya. Pertama kami masing-masing memesan kopi, the manis juga mi instan untuk menghangatkan perut.  Ehh..gak disangka si ibu warung keluar sambil membawa baskom isinya udang goreng. Wuihh masih panas karena baru diangkat dari penggorengan.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Langsung dong saya berdiri, “Bu, itu udangnya sudah ada yang pesan?” kata saya sambil mencomot satu dan langsung mendinginkan di kepalan  tangan yang dilapisi tisu. “Gak ada neng,” kata si ibu.  Hmm, tanpa aba-aba lagi, sesuai juga dengan petunjuk pandangan mata dari rekan-rekan seperjalanan, langsung saya baa piring besar. “” Dibawa saja ke meja itu ya,” sambil menunjuk ke meja rombongan berjumlah 4 orang itu.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Tak cuma sepiring, tiga atau empat (ah lupa)  piring, sampai sang udang tuntas dari persediaan si  ibu warung. “Waduhh, ini udang baru diambil dari sungai tadi sore, sekarang jadi penghuni perut  kita, deh.”   Hehehe&#8230; kami semua tertawa geli. Lahh..mana tega meninggalkan udang segar yang manis dan kenyal itu di piring..  Suara kapal yang baru datang kemudian terdengar..kami pun segera beranjak menuju Lombok&#8230;  (&#8211;&gt; mencari tenunan putri Nyale..)</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;">(<em>Caratan: foto diambil dari om google&#8211;&gt; maklumlah penulis ini gak rajin motret apalagi kalau sedang terjerat oleh makanan yang nikmat itu)</em></p>
</blockquote>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ambularo.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ambularo.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ambularo.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ambularo.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ambularo.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ambularo.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ambularo.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ambularo.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ambularo.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ambularo.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ambularo.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ambularo.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ambularo.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ambularo.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ambularo.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ambularo.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ambularo.wordpress.com&amp;blog=2121188&amp;post=28&amp;subd=ambularo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ambularo.wordpress.com/2008/07/23/udang-goreng-di-poto-tano/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cfb8a0feb1bc35a4e381576ee9285694?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kucingkeren</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/07/plecing.jpeg?w=130" medium="image" />

		<media:content url="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/07/udang1.jpeg?w=137" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Pulau Bacan</title>
		<link>http://ambularo.wordpress.com/2008/06/20/pulau-bacan/</link>
		<comments>http://ambularo.wordpress.com/2008/06/20/pulau-bacan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 19:16:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kucingkeren</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ambularo.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Senin siang di suatu pekan, langit cerah menaungi Kepulauan Gurua Ici di Halmahera Selatan , Maluku Utara. Pelan-pelan Kapal Halsel Express 1 yang saya tumpangi merapat di dermaga Desa Leilei, Kecamatan Kayoa, salah satu kawasan di kepulauan itu. Disambut tarian adat Soya-Soya dan Togal membuat suasana saat itu mendadak meriah. Desa yang dikenal dengan kue [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ambularo.wordpress.com&amp;blog=2121188&amp;post=20&amp;subd=ambularo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Senin siang di suatu  pekan, langit cerah menaungi Kepulauan Gurua Ici di Halmahera Selatan , <span class="yshortcuts" style="background:none transparent scroll repeat 0 0;cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Maluku Utara</span>. Pelan-pelan Kapal Halsel Express 1 yang saya tumpangi merapat di dermaga Desa Leilei, Kecamatan Kayoa, salah satu kawasan di kepulauan itu.</p>
<p>Disambut tarian adat Soya-Soya dan Togal membuat suasana saat itu mendadak meriah. Desa yang dikenal dengan kue angkak (semacam kue lumpur yang ditaburi kenari) kini dijadikan salah satu kawasan wisata di Halmahera Selatan atau Halsel ini.</p>
<p><a href="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/06/_rumahresort.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-132" style="border:10px solid black;float:left;margin-top:10px;margin-bottom:10px;" src="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/06/_rumahresort.jpg?w=124&#038;h=110" alt="" width="124" height="110" /></a>Tak jauh dari Desa Leilei, memang telah dibangun beberapa cottage kayu dengan desain tradisional. Di ‘halaman’nya, selain terhampar pasir putih yang lembut, telah dibangun pula jogging track yang dinaungi pohon nyiur. Tak hanya membuat rindang, buah kelapanya pun bisa dijadikan pelepas dahaga. Yang istimewa, adalah lautnya yang bakal menjadi surga para pencinta snorkeling dan diving. <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Terumbu karang</span> di kawasan ini masih murni, belum lagi berbagai jenis ikan termasuk ikan napoleon favorit para diver banyak berkeliaran di sini. Lengkap sudah.</p>
<p>Daerah wisata laut<span id="more-20"></span> di Kepulauan Gurua Ici ini konon bakal menjadi salah satu kawasan yang termasuk dalam paket wisata yang menghubungkan antara kawasan wisata Bunaken di Sulawesi Utara sampai kawasan wisata Raja Ampat di Irian Jaya. Semacam kawsan wisata terpadu.</p>
<p>Sayangnya, sepertinya masyarakat di sana masih belum bisa memanfaatkan potensi yang ada. Padahal, bisa saja,  penduduk yang dikenal dengan kerajian anyaman dari daun pandan itu membuat pondok wisata yang menjual kerajinan lokalnya. Atau produk lokal lain, seperti ikan asap, atau ikan asin untuk oleh-oleh para turis yang berkunjung ke sana.</p>
<p>Masih banyak lagi <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">objek wisata</span> di Halsel ini, meski memerlukan pembenahan. Di Pulau Bacan, misalnya ada Benteng Bernevald yang dulu dibangun Portugis untuk menahan serangan Spanyol di wilayah ini. Benteng yang dikelilingi parit dan beberapa meriam itu perlu perawatan serius. Kini masih banyak tumbuhan liar di sana. Renovasi bangunan pun harus dibenahi, batu kali yang menjadi bahan dasar bangunnya telah berubah menjadi lapisan semen yang tak terurus. Sehingga karakteristiknya yang unik menjadi hilang.</p>
<p>Di tengah kota Labuha, tepatnya di jalan Usmansyah ada Keraton Sultan Bacan. Disaput warna kuning yang melambangkan warna kesultanan. Bangunannya terlihat lain dari tetangganya, ini karena atap keraton tersebut tinggi mirip atap <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">rumah adat</span> di daerah Bima, Sumbawa Besar. Rupanya pengaruh terbawa karena kesultanan Bacan ini ada hubungannya dengan kesultanan di Bima. Di sini kita bisa melihat beberapa peninggalan yang berhasil diselamatkan dari kebakaran yang melanda keraton aslinya, Yaitu Mahkota, keris serta payung.</p>
<p>Hampir setiap pengunjung berharap melihat bentuk asli dari Mahkota yang disebut Lakare ini. Terbuat dari kain beludru yang tak pernah usang serta hiasan batu-batu mulia asli. Sayang, saat datang,  Mahkota serta keris dan payungnya tak bisa dikeluarkan karena sang sultan sedang tidak berada di kediaman.</p>
<p>Bangunan lain yang bersejarah adalah Masjid Raya Bacan yang berusia lebih dari satu abad. Di sini Anda bisa melihat makam beberapa sultan dan para ulama dari negeri Jiran. Banyak pengunjung yang sengaja mampir hanya untuk berjiarah serta mandi air suci yang mata airnya terdapat di bagian belakang Masjid. Konon berkhasiat untuk menyembuhkan dan membuat awet muda.</p>
<p><a href="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/06/_batu.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-132" style="border:10px solid black;float:left;margin-top:10px;margin-bottom:10px;" src="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/06/_batu.jpg?w=150&#038;h=110" alt="" width="150" height="110" /></a>Halsel juga terkenal dengan Batu Bacan yang berwarna hijau. Penambangan batunya di Pulau Kasiruta, 2-3 jam naik speed boat dari Pulau Bacan. Di Pulau tersebutlah <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">batu akik</span> tersebut ditambang, setelah itu baru di asah di Pulau Bacan sehingga batu akik tersebut lebih dikenal dengan Batu Bacan. Harganya memang tak murah. Bayangkan saja harga 1 kilogram yang belum diasah bisa mencapai Rp.25 juta. Padahal untuk mendapatkan batu akik dengan warna terbaik, dari 1 kg itu hanya 40 -60 persen saja yang terpakai. Belum lagi pengrajin batu terlatih masih minim jumlahnya.</p>
<p>Soal makanan? Ikan asap, pastilah tak sulit dicari di kawasan timur ini. Penyuka buah durian, duku, pala, ini surganya. Duriannya, konon (soalnya pas saya ke sana sedang tidak musim), dagingnya tebal, bijinya kecil, rasanya gurih dan manis.. hmmm.. Duku nya pun tak kalah nikmat, rasa manisnya mengalahkan duku Palembang yang terkenal itu, apalagi di sini dagingnya lebih tebal.</p>
<p>Halsel ibarat mutiara, semakin diasah semakin cemerlang. Begitu banyak potensi yang bisa dikembangkan di sini. Tinggal diasah..</p>
<p>Catatan <span style="text-decoration:line-through;">: Jangan tanya foto dulu ya&#8230; saya lagi belajar bgmn menguploadnya di sini.</span>. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' />    &#8212;-&gt; akhirnya teman seperjalanan -Lourent&#8211; berbaik hati meberikan beberapa fotonya untuk saya upload di sini. thx ya Rennn&#8230;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ambularo.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ambularo.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ambularo.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ambularo.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ambularo.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ambularo.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ambularo.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ambularo.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ambularo.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ambularo.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ambularo.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ambularo.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ambularo.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ambularo.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ambularo.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ambularo.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ambularo.wordpress.com&amp;blog=2121188&amp;post=20&amp;subd=ambularo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ambularo.wordpress.com/2008/06/20/pulau-bacan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cfb8a0feb1bc35a4e381576ee9285694?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kucingkeren</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/06/_rumahresort.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/06/_batu.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Rahai&#8217;i Pangun</title>
		<link>http://ambularo.wordpress.com/2008/05/12/rahaii-pangun/</link>
		<comments>http://ambularo.wordpress.com/2008/05/12/rahaii-pangun/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 09:17:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kucingkeren</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ambularo.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Susur sungai memang eksotis. Apalagi di pedalaman hutan menggunakan perahu kayu yang lengkap dan nyaman. Raha&#8217;i Pangun, perahu kayu berukuran 20 x 6 meter itu salah satunya. Memang bukan cuma perahu biasa tapi layaknya sebuah cruise meski bukan di laut lepas tapi di sepanjang Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah. Interiornya lumayan asyik, saya dan rombongan bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ambularo.wordpress.com&amp;blog=2121188&amp;post=18&amp;subd=ambularo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Susur sungai memang eksotis. Apalagi di pedalaman hutan menggunakan perahu kayu yang lengkap dan nyaman. Raha&#8217;i Pangun, perahu kayu  berukuran 20 x 6 meter itu salah satunya.  Memang bukan cuma perahu biasa tapi layaknya sebuah cruise meski bukan di laut lepas tapi di sepanjang Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah.</p>
<p><a href="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/05/orangutan.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-132" style="border:3px solid black;margin-top:3px;margin-bottom:3px;float:left;" src="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/05/orangutan.jpg?w=132&#038;h=112" alt="orang utan" width="132" height="112" /></a>Interiornya lumayan asyik, saya dan rombongan bisa sarapan pagi sampai dinner hasil olahan koki keluaran sekolah perhotelan. Asyiknya sambil makan itu, kita bisa menyaksikan juga para orang utan makan sambil bergelayutan di cabang-cabang pohon atau di panggung kayu yang dibuat khusus oleh petugas lingkungan yang secara rutin membawa buah-buahan untuk si orang utan ini. Alasan adanya petugas itu sih, karena persediaan makanan di area hutan di Pulau Bapalas itu memang kurang memadai lagi buat populasi mereka.</p>
<p>Menyusuri sungai yang satu ini memang seolah menembus benteng antara kota yang bising suara mesin dan sebuah lingkungan yang hiruk dengan suara-suara alam.  Meski air tak jernih karena tanah gambut, tapi lingkungan di sekitar sungai itu menarik hati. Selain komunitas orangutan tadi, ada juga jenis kera berbuntut panjang, bekantan, owa, beruang madu (cuma gak sempat muncul ke pinggir sungai ni hewan).  Tapi yang beruntung salah seorang teman, sempat melihat macan dahan turun ke pinggir sungai untuk minum. Sayang sejenis kucing ini segera lari saat  Rahai&#8217;i pangun lewat. Di sungai ini juga sesekali muncul mulut ikan gabus. Hemmm</p>
<p><span id="more-18"></span><br />
kalau saja ikan itu berhasil ditangkap, mungkin dikluwek enak juga ya&#8230; hehe&#8230;</p>
<p>Kalau Capek memperhatikan kawasan hutan, cobalah sesekali menengok awan di atas. Nahh di atas sana pemandangan tak kalah seru, sekali Elang Kalimantan atau orang lokal menyebutnya &#8216;Antang&#8217;, yang pundak/lehernya berbulu putih itu muncul dengan gagahnya. Wuiiiiiiiiii.</p>
<p><a href="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/06/rahai-pangun.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-132" style="border:10px solid black;float:left;margin:10px;" src="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/06/rahai-pangun.jpg?w=150&#038;h=100" alt="" width="150" height="100" /></a>Yang menarik, saat pindah ke perahu kecil. Ini karena saya bisa berselancar menembus &#8216;jalan tikus&#8217; di sungai itu menuju danau-danaui kecil di sekitar sungai, termasuk Danau Tahai. Serunya melewati cabang-cabang pohon yang melntang dalam jarak pendek, sehingga terpaksa kita haru s sedikit membungkuk agar tidak ketanggor.  Hmmm untunglah kepala ini bertopi, saya takut saja, kalau tiba-tiba ular yang sedang istirahat di cabang pohon itu tertarik dengan rambut saya yang wangi baru di cuci..hehe&#8230;</p>
<p>Di sepanjang sungai itu juga kita bisa mampir ke desa dayak&#8230; Tapi, untuk yang satu ini saya lebih tertarik mengunjungi desa dayak di Kalimantan Timur.  Menurut saya di sana atmosfir suku dayaknya masih kental. Entahlah..</p>
<p>Perjalanan yang bisa menghabiskan waktu seharian ini, cukup penat tapi mengasyikkan.  Satu hal yang mengganjal pikiran saya, pengelola Rahai&#8217;i Pangun ini adalah dua orang sahabat Lorna dan Gaye, Yang satu orang Inggris yang satu lagi saya tidak tau dari mana (saat saya datang tidak ada soalnya tapi yang pasti bule juga). Mereka sudah lama tinggal di Indonesia, memang. Banyak terlibat dengan NGO yang memberdayakan masyarakat lokal di sana.  Lorna juga seorang antropolog.</p>
<p>Di satu sisi saya kagum dengan mereka berdua. Berhasil menciptakan suatu bentuk pariwisata dengan memberdayakan lingkungan tanah Kalimantan Tengah. Di sisi lain, saya berpikir, kemanakah pengusaha wisata kita???</p>
<p>Aih&#8230; Rahai&#8217;i Pangun&#8230;</p>
<p>(o iya&#8230; seperti biasa saya selalu malas mentransfer hasil jepretan saya ini ke komputer. Belum sempatt..  foto yg saya pasang ini saya ambil dari http://www.wowborneo.com. Silahkan melihat juga di sana siapa tau tertarik dengan paket wisatanya. atau siapa tau mau bikin wisata serupa <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  )</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ambularo.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ambularo.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ambularo.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ambularo.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ambularo.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ambularo.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ambularo.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ambularo.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ambularo.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ambularo.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ambularo.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ambularo.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ambularo.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ambularo.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ambularo.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ambularo.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ambularo.wordpress.com&amp;blog=2121188&amp;post=18&amp;subd=ambularo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ambularo.wordpress.com/2008/05/12/rahaii-pangun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cfb8a0feb1bc35a4e381576ee9285694?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kucingkeren</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/05/orangutan.jpg?w=132" medium="image">
			<media:title type="html">orang utan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ambularo.files.wordpress.com/2008/06/rahai-pangun.jpg?w=150" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Bitung dan Laut</title>
		<link>http://ambularo.wordpress.com/2008/04/07/bitung-dan-laut/</link>
		<comments>http://ambularo.wordpress.com/2008/04/07/bitung-dan-laut/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Apr 2008 08:38:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kucingkeren</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ambularo.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Pertama kali mendengar Bitung, asumsi saya langsung klik dengan kata panas dan ruwet. Yaahh kota pelabuhan, di mana-mana bukankah seperti itu? Belum lagi bau ikannya. Hmmm&#8230;amissssssss. Tapi ketika kaki sudah beranjak ke sana, imej itu langsung berubah. Kotanya bersih, meski masih panas, tapi penghijauan sudah ada di mana-mana. Dan yang asyik, tentu saja urusan &#8216;jalan-jalan&#8217;nya&#8217;. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ambularo.wordpress.com&amp;blog=2121188&amp;post=17&amp;subd=ambularo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertama kali mendengar Bitung, asumsi saya langsung klik dengan kata panas dan ruwet. Yaahh kota pelabuhan, di mana-mana bukankah seperti itu? Belum lagi bau ikannya. Hmmm&#8230;amissssssss. </p>
<p>Tapi ketika kaki sudah beranjak ke sana, imej itu langsung berubah. Kotanya bersih, meski masih panas, tapi penghijauan sudah ada di mana-mana.  Dan yang asyik, tentu saja urusan &#8216;jalan-jalan&#8217;nya&#8217;. Di sini apalagi bukan wisata laut. Maklum lah, Kota Bitung, itu disebut juga sebagai gerbang Sulawesi Utara, karena lokasinya di pinggir laut, tepat, juga karena memiliki pelabuhan yang bakal berfungsi sebagai pelabuhan internasional. </p>
<p><img src="http://aycu16.webshots.com/image/23815/2002236923058055825_rs.jpg" alt="tarsius" align="left" vspace="10" hspace="10">Satu lokasi &#8216;jalan-jalan&#8217; yang kemudian menjadi favorit saya adalah Pulau Lembeh. Lokasinya membentang di selatan kota Bitung. Dipisah oleh Selat Lembeh, Pulau Lembeh menjadi salah satu objek wisata unggulan di Kota Bitung. Di sana ada 8 resort yang bisa dipilihj.  Setiap resort memiliki keunikannya tersendiri. Ada yang memiliki ‘akuarium laut’. Yaitu, jika air pasang, dengan hanya menebar remahan roti, aneka ragam ikan segera ‘menyerbu’. Pengalaman unik yang tak terlupakan, saat ikan-ikan itu dengan manja menyentuh ujung jari saya yang nyemplung ke laut. Geli tapi asyik&#8230;</p>
<p><img src="http://kucingkeren.files.wordpress.com/2007/08/tarsius.jpeg?w=500" alt="tarsius" align="right" vspace="10" hspace="10">Ada juga Lembeh Resort. Di atas tanah 9 hektare, dengan topografi landai dan berbukit berdiri 12 cottage dengan desain arsitektur tradisional dan modern berfasilitas bintang lima. Teristimewa adalah panorama ‘halaman’ resortnya yang memiliki keindahan bawah laut menakjubkan. Tak heran kalau para tamunya didominasi  penyuka keindahan bawah laut. Hampir berbagai jenis ikan dari seluruh dunia ada di sini. “Bahkan ikan purba, <em>coelacanth</em> pun pernah ditemukan di perairan Sulawesi Utara ini.</p>
<p><span id="more-17"></span><br />
Selain laut, wisata darat di Bitung pun asyik dilakukan. Ada Taman Nasional Tangkok. Di sini ada berbagai jenis satwa endemik, seperti Burung Maleo, Monyet Pantat Merah, Tarsius (monyet terkecil di dunia). Sayang, hewan langka ini agak sulit ditemukan karena sering bersembunyi di area tertentu di tengah hutan. Tapi, jangan khawatir, kalau penasaran dan tak punya banyak waktu mencari hewan langka itu di Hutan Tangkoko, ada pilihan menarik. Yaitu sebuah tempat penangkaran di daerah Bitung Timur yang oleh penduduk di sekitar tersebut disebut Kebun Binatang. Berbagai hewan unik ada di sana. Antara lain, ular Phyton seberat 214 Kg, dengan panjang 6,7 meter dan diameternya 25 cm. Juga elang bondol, buaya, sampai monyet pantat merah serta tarsius ada di sana. Area yang berada di tengah kebun kelapa ini milik pasangan Mika dan Imam. Mika atau lengkapnya Jeffalin Mika Gumolang SH , adalah sosok yang pada 1994 memperoleh penghargaan Kalpataru dari Presiden Soeharto dalam kapasitasnya sebagai pelestari satwa.</p>
<p>Di tengah kota di kawasan Kelurahan Dano Wudu, Bitung Utara, ada Hutan Kota seluas 17,5 Hektar. Selain terdapat hewan langka, ada sekitar 300-an jenis kayu tumbuh di sini. Masuk ke dalam, terdapat area perkemahan. Masih di area Hutan Kota ada mata air dari batu yang menjadi sumber air seluruh kawasan Bitung.</p>
<p>Selebihnya, tata kota yang serba bersih dan cantik karena ditumbuhi tanaman bunga pun seringkali menjadi area rileks para pejalan kaki. Bahkan tempat Pembuangan Sampat Akhir (TPA) pun bisa menjadi tempat wisata. Tak heran karena, sistem pembuang sampahnya menggunakan sistem buang tutup, sehingga bau tak sedap tak muncul di area tersebut. </p>
<p>Bitung sepertinya berhasil menghapus imej, bahwa tak selamanya kota pelabuhan itu kumuh, ruwet dan bau. </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ambularo.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ambularo.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ambularo.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ambularo.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ambularo.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ambularo.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ambularo.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ambularo.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ambularo.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ambularo.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ambularo.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ambularo.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ambularo.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ambularo.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ambularo.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ambularo.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ambularo.wordpress.com&amp;blog=2121188&amp;post=17&amp;subd=ambularo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ambularo.wordpress.com/2008/04/07/bitung-dan-laut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cfb8a0feb1bc35a4e381576ee9285694?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kucingkeren</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aycu16.webshots.com/image/23815/2002236923058055825_rs.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tarsius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kucingkeren.files.wordpress.com/2007/08/tarsius.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">tarsius</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>F1</title>
		<link>http://ambularo.wordpress.com/2008/03/26/f1/</link>
		<comments>http://ambularo.wordpress.com/2008/03/26/f1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Mar 2008 07:04:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kucingkeren</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ambularo.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Ah, bosan, ngapain nonton sliweran mobil? Apa asyiknya? Mendingan cari anggrek di hutan Irian. Begitu otak saya &#8216;protes&#8217; ketika pertama kali dapat tugas nonton F1 di Sepang Malaysia. Siapa sih Kimi, Hamilton, Massa, ALonso? Ahh, paling para lelaki yang taunya cuma mesin mobil, wangi, glamour. Tak menarik.. PEndapat itu semua bubar saat saya sudah duduk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ambularo.wordpress.com&amp;blog=2121188&amp;post=16&amp;subd=ambularo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ah, bosan, ngapain nonton sliweran mobil? Apa asyiknya? Mendingan cari anggrek di hutan Irian. Begitu otak saya &#8216;protes&#8217; ketika pertama kali dapat tugas nonton F1 di Sepang Malaysia. Siapa sih Kimi, Hamilton, Massa, ALonso? Ahh, paling para lelaki yang taunya cuma mesin mobil, wangi, glamour. Tak menarik..</p>
<p>PEndapat itu semua bubar saat saya sudah duduk di kursi penonton dan Kimi sang pemenang menarik tutup botol Champaigne kemenangan.</p>
<p>Atmosfir nya sungguh luar biasa, sangat beda ketika kita melihatnya melalui televisi. Adrenalin yang naik turun saat jagoan kita melorot posisinya di lintasan gara-gara kelamaan ganti ban di pit stop, dan riuh tepuk tangan saat mobilnya melintas di depan kita.. waahhhhhhhh seru!! (mirip serunya saat menyeberangi sungai yang banyak buayanya)</p>
<p>BErbagai  seru lainnya juga terpotret jelas di sini. Para penggila Ferrari misalnya, semua berkostum merah sampai ikat kepalanya. Dan mereka tak malu-malu mengekspresikan kemenangan juaranya dengan berbagai aksi, termasuk jadi model foto dengan berbgai pose. Bahkan demi menyaksikan kemenangan itu, sang bayi  pun ikut dibawa nonton serta diberi kostum merah pula. Busyet&#8230; Untung saja Kimi tak menyia-nyiakan pengorbanan pengagumnya itu dengan berhasil naik podium di no 1. </p>
<p>Di belakang tempat duduk saya, rupanya ada sekelompok  pengagum FErnando ALonso dari tim Renault.  Meski  tim-nya ini tak maju ke podium, mereka tetap menggaungkan nama si pembawa mesin.. ALooooonssooo&#8230;Aloooonnnssooo&#8230;. Wuihh&#8230;</p>
<p>Saya pun geli, saat teman <span id="more-16"></span>yang duduk sejejeran dengan saya bertanya di akhir pertandingan, &#8220;jadi yang menang siapa, ya?&#8221;   Hahahaha&#8230;. tak heran kok, untuk pemula, bahkan saya pun tak mampu mengenali idola saya Lewis Hamilton lewat di depan saya. Padahal, jelas sekali mobilnya berwarna perak dengan helm yang dibalut kuning&#8230;  Untunglah sebelah saya piawai soal ini, dan sabar menyebut, ituu <a href="http://kucingkeren.wordpress.com/2008/03/26/hamilton/">Hamilton</a>-mu&#8230; hehehe</p>
<p>Meski jagoan saya &#8216;cuma&#8217; menempati posisi ke-5, saya tetap puassss&#8230; mungkin tahun depan saya mau nabung buat beli karcis nonton di Sepang lagi..  Hemmm&#8230; (boleh kan?)</p>
<p>Oya..fotonya nanti disusulkan, belum sempat ditransfer nih&#8230;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ambularo.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ambularo.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ambularo.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ambularo.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ambularo.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ambularo.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ambularo.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ambularo.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ambularo.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ambularo.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ambularo.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ambularo.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ambularo.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ambularo.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ambularo.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ambularo.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ambularo.wordpress.com&amp;blog=2121188&amp;post=16&amp;subd=ambularo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ambularo.wordpress.com/2008/03/26/f1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cfb8a0feb1bc35a4e381576ee9285694?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kucingkeren</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
