Aroma alamnya tak hanya membius, roh budaya Jawa seolah melekat bersama harumnya kopi itu.
Ambillah sejumput irisan gula aren dan satu biji kopi yang telah disangrai. Kunyahlan keduanya bersamaan. Rasa kopi yang sedikit pahit dan harum serta manisnya gula aren membuat lidah tak henti menari. Sensansi kuliner itu membawa kita ke nuansa acara minum kopi pada keluarga Jawa di perkebunan jaman dulu. Petualangan kecil itu saya nikmati di Losari Coffee Plantation Resort & Spa di kawasan Magelang, Jawa Tengah.
Tapi tak hanya itu, masih banyak kejutan manis lain di area 22 hektar ini.
Memasuki gerbangnya, saya disambut lobi yang unik. Yaitu Mayong, stasiun kereta api tua yang dibangun pada 1863 Meski telah direnovasi di sana-sini, bangunan ini masih tetap unik dan orisinil. Lampu gantungnya yang merupakan cawan besar dari kaca, bahkan pintu pembelian tiketnya masih terlihat utuh meski tua.
Dibangun pada ketinggian 900 meter di atas permukaan laut, atmosfer Losari sungguh menyejukkan. Di sekelilingnya ada delapan gunung menjulang memamerkan pesonanya. Yaitu Gunung Sindoro, Sumbing, Perahu, Unggaran, Merapi, Merbabu, Andong, dan Gunung Telemoyo. Sekitar 80persen areanya terdiri dari perkebunan kopi robusta yang telah berumur puluhan tahun.
Selebihnya adalah hunian antik dari tanah Jawa. Di tengah areanya, misalnya, berdiri kokoh gedung tua yang dibangun 1928. Bangunan yang kini disebut Club House ini digunakan sebagai fasilitas para tamu untuk check in dengan nyaman. Furniture dan elemen interiornya tak berubah sejak pertama dibangun. Sore hari di beranda sebelah baratnya, kita bisa duduk di kursi antik sambil menyesap teh jahe, menanti sunset di balik gunung Sindoro dan Sumbing.
Bangunan lain adalah 26 vila antik. Setiap vila memiliki keunikan serta sejarah tersendiri. Joglo Kudus, misalnya bangunan ini langsung dibawa dari daerah Kudus Jawa Tengah dan dibangun kembali di Losari persis seperti aslinya.
Instrumen interiornya pun dibuat selaras dengan keantikan bangunan itu. Simaklah atap dari tempat tetrirahnya, Ukiran kayu khas Kudus, misalnya yang didominasi tekstur tumbuhan. Konsep alami pun tak lepas dari arsitektur setiap bangunan. Kamar mandi, contohnya, atapnya dibiarkan terbuka, bahkan bahan untuk bath tub dan wastafel terbuat dari alam seperti batu gunung atau perunggu.
Ketika santai di beranda vila, ada suguhan pemandangan alam menakjubkan. Ada bentangan sawah yang luas, atau perkebunan kopi, atau pemandangan ke delapan gunung itu, tergantung di vila mana menginap. Di Vila Andong? Ada pemandangan gunung Andong, begitu juga di Vila Merapi, maka Gunung Merapi lah yang akan jelas terlihat dari beranda. Mengasyikkan…
Losari pun menawarkan gaya hidup kembali ke alam. Tak heran jika di antara perkebunan kopi itu, ditanam juga berbagai tumbuhan organik. Jika sudah panen, kita bebas memetiknya, kemudian mebawanya ke dapur Losari Restaurant untuk diolah berdasarkan permintaan.
Losari masih memiliki kejutan lain. YaituSpa khas ala Turki, The Hamam. Dibangun di atas tanah 600 meter persegi oleh arsitek dari Italia, Andrea dan Fabrisio Magnaghi. Di sini ada mandi ala turki, lengkap dengan sarana relaksasi, serta ruang panasnya. Bahkan ada juga fasilitas salon dan massages tradisional dengan bubuk kopi. Atau melakukan yoga dibawah bimbingan profesional? Tinggal melangkahkan kaki ke Private Hatha&Astanga Yoga. Atau sekedar ingin berenang, Anda bisa melakukannya sambil menikmati pemandangan ‘para’ gunung tadi.
Tertarik dengan proses pembuatan kopi? Ikuti tour mengelilingi kebun kopi. Di sana kita bisa belajar membedakan mana kopi robusta, arabika atau regista. Usai berkeliling, mampirlah ke Waroeng Kopi nya untuk menyaksikan bagaimana kopi dibersihkan, dibakar dan digiling. Capek? Tak perlu, karena di sana ada juga suguhan kunyit asam atau beras kencur, minuman tradisional jawa yang dibuat langsung di tempat tersebut. Tubuh rasanya segar lagi usai segelas beras kencur itu saya teguk. Setelahnya, lalu saya santai di sebuah kursi kayu sambil ngemil butiran kopi dan irisan gula aren tadi.
Aroma alam Losari tak hanya membius, roh budaya Jawa seolah melekat bersama harumnya kopi itu. Kejutan manis, di antara delapan gunung itu.
gw tiap hari di gunung, di hutan tnapa peradaban, kok nggak dapat kejutan yak *garuk garuk kursi*
sayang, tempo hari ke magelang gak mampir ke tempat ini
Aku gak tahu daerah ini ada di manay ya.
BOleh dong foto2nya juga, biar bisa updated
gw udah bosen ke gunung… sekali-kali ingin nyelam ke palung laut…
Menarik dan harum kopinya sampai kesini … mudah2an suatu saat berkesempatan kesana
lhoh..ini kucing keren juga ya? hihi kangen kopi Jawa saya sis…
@zulhaq : karena sudah terbiasa jadi biasa2 aja gunungnya
@Sof : Sempatkan sekali waktu, pak
@Zee : fotonya blm sempat aku upload, sis .. sabar.. I will
@Ichank : orang gunung sih ya..
@Aris : Harus Mas..
@Aisha : hehe..iya nih my other blog, sis..
weh..mana foto2nya
saya belum pernah ketempat itu
tempat yang mewah ya kelihatannya??
kapan update…